GUNUNGKIDUL — Pagi yang cerah di awal pekan pertengahan Agustus 2026 menjadi momentum bersejarah bagi seluruh Murid SMA Dominikus. Para Murid terlihat bersemangat dan antusias saat deretan bus mulai bersiap memberangkatkan para mereka menuju petualangan edukatif yang tidak biasa. Bukan sekadar wisata edukasi biasa, kegiatan hari ini merupakan rangkaian ekskursi keberagaman dan penjelajahan lintas iman bertajuk “Belajar dari Perbedaan, Bertumbuh dalam Persatuan”.
Melalui kegiatan lapangan ini, para murid diajak menanggalkan dinding-dinding sekat teoretis di dalam kelas untuk melangkah langsung menapaki jejak-jejak rumah ibadah multi-agama yang tersebar harmonis di kawasan Gunungkidul, melingkupi wilayah Bandung, Siraman, hingga Gading. Rangkaian tempat ibadah yang menjadi episentrum pembelajaran ini mencakup Gereja Katolik Santo Yusup Bandung, Vihara Jhina Dharma Sradha di Siraman, Pura Girinata di Gading, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Logandeng Pepanthan Gading, serta Masjid Darush Shoolihiin Gading 6.
Sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji ketajaman intelektual dalam memahami realitas sosiologis masyarakat, tetapi juga mengasah kepekaan nurani serta rasa saling menghargai di tengah warna-warni perbedaan yang menjadi kekayaan hakiki bangsa Indonesia.
PERSIAPAN MANDIRI DAN KEDISIPLINAN: BEKAL AWAL SANG PENJELAJAH
Sejak fajar menyingsing, persiapan matang telah terlihat di titik kumpul keberangkatan. Setiap peserta telah dibekali arahan komprehensif mengenai pentingnya kesiapan fisik, logistik, maupun sikap mental sebelum terjun ke lapangan. Pembelajaran karakter dan kemandirian dimulai dari hal-hal mendasar yang sifatnya personal.
Para murid tampak cekatan memeriksa perlengkapan pribadi yang wajib dibawa. Dan untuk menunjang tugas-tugas akademis, setiap peserta melengkapi diri dengan alat tulis, lembar kerja, serta gawai/smartphone yang difungsikan sebagai alat rekaman, wawancara, dan dokumentasi visual pengamatan.
Kedisiplinan dan tata tertib perjalanan diuji secara ketat saat proses pembagian armada transportasi. Seluruh peserta diwajibkan memasuki dan menempati bus yang telah ditentukan oleh panitia. Aturan tegas diberlakukan: peserta tidak diperbolehkan bertukar bus selama seluruh rangkaian perjalanan berlangsung. Kedisiplinan ini dirancang untuk menjaga tata kelola rombongan, memastikan keamanan personal, serta membangun koordinasi kerekatan tim dalam satu kelompok armada yang sama dari awal hingga akhir kegiatan.
Sebelum bus bergerak menyusuri jalanan, setiap kelompok di dalam bus melakukan konsolidasi internal. Masing-masing kelompok memastikan bahwa seluruh anggotanya memahami betul tujuan utama kunjungan, menguasai pembagian tugas teknis—siapa yang bertugas sebagai pewawancara, pencatat, juru kamera, hingga penyusun materi—serta memegang Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang memuat panduan pertanyaan eksploratif.
Di atas roda yang terus berputar menuju destinasi pertama, pemahaman mendalam mengenai tata krama dan etika memasuki ruang suci ditegaskan kembali. Para murid diingatkan kembali oleh para Pendamping bahwa setiap rumah ibadah memiliki keheningan, aturan, serta kebiasaan khusus yang harus dijunjung tinggi tanpa terkecuali. Menghormati aturan lokal bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata dari tema yang mereka usung: bertumbuh dalam persatuan.
TITIK AWAL DI GEREJA SANTO YUSUP BANDUNG: SHARING KEBINEKAAN DAN BERKAT KEBERSAMAAN
Alur perjalanan edukatif ini secara resmi diawali di titik kumpul utama seluruh rombongan, yaitu Gereja Katolik Santo Yusup yang berlokasi di kawasan Bandung, Gunungkidul. Kompleks gereja yang tenang dan asri menjadi latar belakang pembuka yang penuh kehangatan. Seluruh peserta dari berbagai bus berkumpul secara khidmat untuk mengikuti sesi pembekalan awal yang sangat bernilai.

Sesi pertama di Gereja Santo Yusup dipimpin langsung oleh Romo Reza, seorang Pastor Katolik yang dikenal ramah dan berwawasan luas. Dalam sesi “Sharing Kebhinekaan”, Romo Reza membuka wawasan para peserta didik dengan memaparkan secara runtut sejarah berdirinya Gereja Santo Yusup, peran historisnya bagi masyarakat sekitar, serta fungsi-fungsi utama gereja baik sebagai tempat peribadatan spiritual maupun sebagai pusat kegiatan sosial komunitas.
Romo Reza membedah secara mendalam tentang kekhasan dan identitas ajaran Katolik, mulai dari makna simbol-simbol keagamaan yang ada di dalam gereja, tata cara peribadatan, hingga tata nilai kekeluargaan dan persaudaraan sejati yang diajarkan dalam iman Katolik. Penjelasan disampaikan secara populer, inklusif, dan mudah dicerna oleh generasi muda, sehingga suasana dialog berlangsung sangat hidup.

Sesi dilanjutkan dengan dialektika interaktif melalui forum tanya jawab. Para siswa menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan kritis namun santun meluncur dari para murid, mengujarkan rasa ingin tahu yang besar mengenai bagaimana Gereja Katolik beradaptasi dengan budaya lokal Yogyakarta serta bagaimana cara gereja menjaga tali silaturahmi dengan penganut agama lain di lingkungan sekitar.


Kegiatan di Gereja Santo Yusup Bandung diakhiri dengan prosesi penutup yang berkesan. Seluruh peserta, guru, dan pengurus gereja mengabadikan momen kebersamaan tersebut melalui sesi foto bersama di dalam gereja. Sebelum rombongan besar dibubarkan untuk berpindah ke lokasi berikutnya, Romo Reza memimpin doa bersama dan memberikan ucapan berkat keselamatan serta kelancaran bagi seluruh rangkaian penjelajahan murid-murid SMA Dominikus hari itu.
DIVERSIFIKASI RUTE: MENYEBAR KE PUSAT-PUSAT SPIRITUALITAS MULTI-AGAMA
Usai menuntaskan agenda bersama di Gereja Santo Yusup Bandung, alur kegiatan memasuki fase krusial. Rombongan besar yang semula bersatu kini memecah diri dan menyebar ke lokasi kunjungan masing-masing sesuai dengan skema pembagian rute kelompok yang telah ditetapkan sebelumnya.
Langkah ini dirancang agar eksplorasi dapat berjalan lebih efektif, mendalam, dan tidak memicu kerumunan berlebih di satu lokasi tertentu. Masing-masing kelompok bergerak menuju pusat peribadatan yang telah dijadwalkan, yaitu Vihara Jhina Dharma Sradha di Siraman, Pura Girinata di Gading, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Logandeng Pepanthan Gading, serta Masjid Darush Shoolihiin Gading 6.
1. Menyelami Keheningan dan Kebijaksanaan di Vihara Jhina Dharma Sradha

Kelompok murid yang mengarah ke wilayah Siraman disambut oleh aroma harum dupa dan suasana tenang khas Vihara. Di tempat ini, para siswa mempelajari akar ajaran Buddha, konsep jalan tengah (Majjhima Patipada), serta tradisi meditasi yang menjadi sarana penjernihan pikiran. Pengurus Vihara menjelaskan bagaimana nilai-nilai kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup (Metta) diterjemahkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
2. Memahami Harmoni Alam dan Keagungan Tradisi di Pura Girinata Gading.

Sementara itu, kelompok yang bergerak ke Pura di kawasan Gading disuguhkan oleh arsitektur khas Nusantara berhiaskan ukiran dan janur. Di lingkungan Pura, para murid belajar mengenai filosofi Tri Hita Karana—tiga penyebab kebahagiaan yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam lingkungan. Pengurus Pura memberikan penjelasan detail mengenai makna sesaji, tata cara sembahyang, serta hari-hari besar keagamaan Hindu.
3. Membedah Historisitas dan Kesederhanaan di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Logandeng Pepanthan Gading.

Di GKJ Gading, para peserta diterima dengan penuh kehangatan oleh majelis gereja dan pendeta setempat. Di sini, murid-murid mendalami sejarah masuk dan berkembangnya ajaran Kristen Protestan yang berakulturasi erat dengan kebudayaan Jawa. Pendekatan liturgi bermuatan lokal, penggunaan bahasa Jawa dalam peribadatan tertentu, serta semangat kemandirian gereja menjadi topik pengamatan yang sangat menarik bagi para siswa.
4. Meresapi Kedamaian dan Nilai Ukhuwah di Masjid Darush Shoolihiin Gading 6.

Kelompok yang mengunjungi Masjid Darush Shoolihiin di Gading menyaksikan langsung bagaimana bangunan suci umat Islam ini berfungsi tidak hanya sebagai tempat salat lima waktu, tetapi juga sebagai episentrum peradaban warga sekitar. Pengurus takmir masjid menjelaskan pilar-pilar ajaran Islam, konsep persaudaraan (ukhuwah), serta tata cara bersuci (wudu) dan tata tertib memasuki area ruang utama masjid. Para murid mengamati bagaimana masjid menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.
DEDIKASI PEMBELAJARAN: METODE OBSERVASI DAN DIALOG BERETIKA
Di setiap lokasi kunjungan, proses belajar berjalan secara dinamis dan berorientasi pada pencapaian indikator kemampuan berpikir kritis serta rasa empati. Para siswa tidak sekadar datang dan melihat-lihat, melainkan menjalankan metode investigasi ilmiah sederhana berdasarkan LKPD yang mereka pegang.
Saat narasumber di tiap tempat ibadah menyampaikan materi, suasana terpelihara dengan sangat kondusif. Para siswa mengondisikan diri secara mandiri untuk fokus memperhatikan penceramah. Buku catatan mereka terisi dengan poin-poin penting, mulai dari latar belakang sejarah, istilah-istilah khusus keagamaan, hingga agenda kegiatan kemasyarakatan. Jika ada rekan sejawat yang kesulitan memahami makna istilah tertentu, interaksi bertukar pikiran dilakukan secara berbisik dan saling membantu tanpa mengganggu jalannya acara.

Kematangan emosional dan etika berkomunikasi para murid SMA Dominikus terlihat jelas saat sesi dialog interaktif dibuka. Setiap pertanyaan diajukan secara sopan dengan mengacungkan tangan terlebih dahulu. Yang paling mendasar, seluruh pertanyaan yang meluncur murni didasari rasa ingin tahu akademis dan semangat toleransi—sama sekali tidak bersifat menghakimi (judgmental), tidak membanding-bandingkan ajaran, apalagi merendahkan keyakinan agama tertentu. Kelompok-kelompok yang hadir bergantian memanfaatkan kesempatan untuk bertanya secara adil dan teratur.
Enam Pilar Fokus Observasi Lapangan
Guna menghasilkan analisis yang komprehensif, pengamatan mandiri yang dilakukan murid-murid difokuskan pada enam aspek utama:
- Lingkungan Tempat Ibadah: Tata ruang, kebersihan, arsitektur, simbol-simbol keagamaan, dan estetika bangunan.
- Fungsi Tempat Ibadah: Pemanfaatan ruang untuk peribadatan rutin, pembinaan mental spiritual, pendidikan keagamaan, hingga kegiatan remaja.
- Aktivitas Keagamaan: Ritual, perayaan hari besar, jadwal ibadah, dan tatanan peribadatan yang berlaku.
- Nilai Sosial dan Kemanusiaan: Program kepedulian sosial, bantuan bencana, donor darah, dan pembagian logistik bagi warga kurang mampu.
- Bentuk Pelayanan kepada Masyarakat: Layanan kesehatan, pendidikan non-formal, penyediaan sarana umum, serta ruang terbuka publik.
- Budaya, Tradisi, dan Interaksi Lokal: Bagaimana tempat ibadah tersebut menyatu dengan tradisi lokal serta membangun komunikasi yang harmonis dengan tetangga masyarakat sekitar yang berbeda keyakinan.
OUTPUT KREATIF DAN AKADEMIS: VLOG DAN PRESENTASI PPT
Rangkaian kegiatan eksperiensial di lapangan ini tidak berhenti saat kunjungan fisik selesai. Pembelajaran dirancang secara berkelanjutan hingga tahap pengolahan data dan penyajian hasil karya intelektual. Untuk merefleksikan seluruh temuan lapangan, setiap kelompok murid diberi mandat untuk menghasilkan dua output karya utama.
Karya Pertama: Vlog Edukasi Perjalanan
Para murid ditantang untuk merangkai dokumentasi video dan rekaman wawancara yang telah dikumpulkan menjadi sebuah video blog (vlog) yang menarik dan informatif. Vlog ini disusun dengan menyatukan narasi perjalanan, footage keindahan rumah ibadah, wawancara bersama narasumber lokal, serta pesan-pesan moral tentang pentingnya menjunjung tinggi toleransi. Melalui media audio-visual ini, para murid dapat membagikan pengalaman berharga mereka kepada khalayak luas di media sosial, menyebarkan virus perdamaian dan keberagaman kepada sesama generasi muda.
Karya Kedua: Presentasi Hasil Pengamatan (Format PPT)
Selain karya visual, para siswa diwajibkan menyusun laporan sintesis formal berupa file presentasi PowerPoint (PPT). PPT ini berisi kodifikasi data, analisis enam pilar observasi, intisari hasil wawancara, serta kesimpulan reflektif kelompok. Presentasi ini nantinya akan dipaparkan dan diuji di depan kelas dalam forum diskusi pleno sekolah. Melalui tugas penyusunan PPT ini, kemampuan berpikir analitis, sistematika penulisan, dan keterampilan public speaking para murid terus digembleng.
MERAWAT TENUN KEBINEKAAN SEJAK DINI
Kegiatan ekskursi keberagaman SMA Dominikus pada Selasa, 11 Agustus 2026 ini memberikan pelajaran membekas yang tak mungkin didapatkan dari lembaran buku teks belaka. Berjalan menapaki lorong-lorong Gereja Santo Yusup Bandung, meresapi kedamaian Vihara Siraman, mengagumi keharmonian Pura Gading, merasakan kehangatan GKJ Gading, dan menyaksikan kesederhanaan Masjid Darush Shoolihiin di Gading 6 telah membukakan mata dan hati para peserta didik.
Mereka menyadari bahwa perbedaan dogma dan ritual bukanlah tembok pemisah, melainkan kekayaan warna yang menyusun indahnya lukisan keindonesiaan. Dengan mempersiapkan diri secara mandiri, menjaga tata krama di tempat suci, bertanya dengan penuh rasa hormat, serta merekam setiap momen pembelajaran dalam bentuk vlog dan presentasi akademis, murid-murid SMA Dominikus telah membuktikan kesiapan mereka untuk menjadi pilar-pilar penjaga toleransi di masa depan.
Sesuai dengan tajuk utama kegiatan ini, “Belajar dari Perbedaan, Bertumbuh dalam Persatuan”, para siswa pulang membawa tidak hanya lembaran catatan dan rekaman video, melainkan sebuah pemahaman baru yang menghujat dalam sanubari: bahwa untuk mencintai kebangsaan Indonesia, seseorang harus belajar memahami, menghormati, dan merawat perbedaan secara nyata dalam tindakan sehari-hari.
Ditulis dan dilaporkan oleh : Sutanto Prabowo
