Penulis: Rosa Adista Septi Andini, S.Pd.

Suasana khidmat menyelimuti lapangan SMA Dominikus Wonosari pada Jumat pagi, 13 Maret 2026. Tepat pukul 07.30 WIB, seluruh siswa, guru, dan karyawan berkumpul dengan mengenakan busana adat Jawa gagrak Ngayogyakarta yang anggun untuk melaksanakan upacara peringatan Hari Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Puncak upacara ditandai dengan pembacaan amanat Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Pembina Upacara oleh Ibu Rosa Adista Septi Andini, S. Pd, Ngarsa Dalem menekankan bahwa keistimewaan Yogyakarta bukan sekadar status hukum atau administratif semata, melainkan sebuah “ruh” yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Poin-poin utama dari sambutan Gubernur yang ditekankan bagi civitas akademika SMA Dominikus antara lain:
- Golong Gilig: Semangat persatuan antara rakyat dan pemimpin, yang dalam konteks sekolah diterjemahkan sebagai kolaborasi harmonis antara guru dan murid.
- Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh: Empat filosofi karakter yang diharapkan menjadi landasan siswa dalam menuntut ilmu: fokus, bersemangat, percaya diri namun rendah hati, serta bertanggung jawab.
- Kebudayaan sebagai Fondasi: Pendidikan di DIY harus mampu menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik namun tetap berpijak pada nilai-nilai unggah-ungguh dan etika ketimuran.
“Keistimewaan adalah tentang bagaimana kita memayu hayuning bawana, menjaga keindahan dunia dimulai dari lingkungan sekolah yang toleran dan berbudaya” kutip pembina upacara menyimpulkan pesan Sultan Hamengku Buwono X.
Sepanjang upacara, penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam instruksi baris-berbaris menambah kekentalan nuansa budaya. Upacara berakhir pada pukul 08.30 WIB. Peringatan ini diharapkan dapat menanamkan rasa bangga menjadi bagian dari Yogyakarta yang istimewa, selaras dengan visi sekolah untuk membentuk pribadi yang berkarakter dan berintegritas.
